pagi ini pas liat email, aq tertarik untuk membuka email dari sebuah milis agama yang aq tergabung. ternyata isi email itu “hanya” ingin sekedar memperkenalkan seorang guru dan ustadz beliau yang mengirim email. iseng aq buka, untuk melihat seperti apa website beliau.

ku buka satu persatu, tapi aku cenderung lebih lama di menu hikmah karena aku yakin tulisan ustadz sebesar beliau pasti akan menambah wawasan keagamaanku. satu isi tulisan beliau yan aku ingin sekali berbagi dengan saudara2 ku, yaitu tafsir surat yasin 1-8. Sederhana bahasanya sehingga insya Allah akan mudah untuk menerima.

untuk ustadz, saya mohon ijin untuk mengcopy tulisannya. bukan untuk apa, hanya sekedar ingin berbagi….. mohon diijinkan🙂

Yasin untuk Orang Mati?

Oleh

Dr. H. Rusli Hasbi, MA

Allah berfirman dalam surat Yasin ayat 1 sampai 8:

“Yaasiin. Walquranil hakiim. Innaka la minal mursaliin, ‘alaa shiraathim mustaqiim. Tanzilal ‘aziizirrahiim. Litundzira qauman maa undzira aabaauhum fahum ghaafiluun. Laqad haqqal qaulu ‘ala aktsarihim fahum la yukminuun. Innaa ja’alnaa fii a’naaqihim aghlaalan fihiya ilal adzqaani fahum muqmahuun”.

Yaasiin

“Ya” panjangnya dua harakat, “sin” dua, empat atau enam harakat. Jadi, “yaasiin” bisa dibaca dalam tiga versi: Yaasiin, Yaasiiiin, atau Yaasiiiiiin.

Apa makna Yaasiin? Ada ulama yang melihat ya itu sebagai wahai, hei, dan sejenisnya. Misalnya, ya Abdullah = wahai Abdullah, ya Mahmud = wahai Mahmud, ya Muhammad Top = hei Nurdin. Umpamanya ini.

Kalau ya bermakna wahai, maka siin punya makna dua macam. Pertama, siin bermakna insan. Jadi, yaasiin artinya wahai insan, atau wahai manusia. Pendapat yang kedua: yaasiin itu adalah Nabi Muhammad SAW, seperti Thaha yang juga diterjemahkan sebagai nama Nabi Muhammad.

Mana bukti ustadz? Shalatullahi salamullah… ‘ala Thaha rasulillah sering kita dengar dilantunkan sebagai shalawat. Thaha adalah salah satu nama Nabi Muhammad SAW. “…‘ala Thaha rasulillah. Shalatullahi salamullah ‘ala Yaasiin habibillah,” begitu lanjutan shalawat tersebut. Yaasiin di situ bermakna Nabi Muhammad SAW.

Pendapat yang ketiga, “Ribut sekali, ada yang bilang yaasiin nama Nabi, ada yang bilang yaasiin wahai manusia. Yang benar apa?” Allahuta’ala a’lam…Allah Mahatahu. Jangan terjemah ini atau itu. Inilah pendapat yang paling kuat, yaitu bukan “wahai manusia” dan bukan pula “Nabi Muhammad”, tapi “Allah Mahatahu.”

Walquraanilhakiim

Allah bersumpah, “Demi Quran ini, demi Quran, demi Quran”, atau bahasa kita “demi Allah.” Sumpah ini mengisyaratkan kesungguhan dan jaminan kebenaran yang setinggi-tingginya atas kalimat berikutnya, supaya Nabi Muhammad lebih yakin.

Innaka laminal mursaliin

Engkau wahai Muhammad wallahi (demi Allah) termasuk salah satu dari sekian banyak Rasul. Jangan ragu. Dengan sumpah Allah tadi Nabi Muhammad mulai bahagia. Misalnya, seorang Presiden mengatakan, “Saya bersumpah kalian di kampung ini termasuk yang menerima kompensasi BBM, wallahi. Jangan takut.” Rakyat yang mendengar bahagia tidak? Oh… hidungnya langsung kembang, senang.

Kalau begitu, Nabi Muhammad yang tadinya terkucil, dicaci-maki, direndahkan, dan sebagainya akhirnya menerima wahyu “Yaasiin walquranilhakim innaka ya Muhammad laminal mursalin” sekonyong-konyong menjadi tenang dan bahagia.

“Terus ya Allah,” Nabi Muhammad berkata, “Walaupun saya seorang Rasul, mareka masih mengatakan saya tukang sihir, bodoh, gila, ya Allah kenapa?”

‘Alaa shiraathim mustaqiim

Jawaban Allah, “Kamu tidak bodoh dan tidak gila, tetapi kamu berada pada jalan yang jelas, yang benar.”

Tanziilal ‘azizirrahiim

Nabi Muhammad masih diperkuat terus dengan “tanziilal ‘aziizirrahiim… kerasulanmu bukan ketetapan dari sembarang orang lho.” Tanziilal ‘aziizirrahiim bermakna diturunkan dari sana-Nya. Surat Keputusannya bukan dari Cikeas atau Istana, tapi langsung dari Yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang.

“Baiklah, kalau begitu apa tugas saya ya Allah, apa yang harus saya buat?”, kata Rasul. Jangan lupa, semua dialog ini saya peragakan supaya Anda lebih mudah mengerti apa yang disampaikan Allah dalam surat Yaasiin.

Litundzira qauman maa undzira aabaauhum fahum ghaafiluun

Litundzira qauman… “Tugas kamu adalah untuk memberi peringatan kepada masyarakat. Ajak kaummu, tetanggamu, keluargamu, masyarakatmu. Siapa mereka? Ma undzira aabaauhum … yang sebelum kedatanganmu, sebelum dakwahmu, orangtua mareka pun tidak tahu apa-apa. Orangtua mareka sesat, tidak ada yang memerintah mereka dengan benar, tidak ada yang mengarahkan mareka. Orangtua mareka sudah hancur. Ada yang masih hidup ada pula yang sudah meninggal, tapi peradaban mareka sama-sama hancur. Akhlak mereka banjir dengan kemaksiatan, pornografi, korupsi, dan kriminalitas.

Litundzira qauman Tugas kamu menyelamatkan kaum …ma undzira aabaauhum… yang bapak-bapak mareka itu tidak pernah baik, sudah mati dalam kekafiran, dalam kejahatan, dalam dosa memakan harta anak yatim, harta negara, pokoknya harta orang lain. Nenek moyang mereka memang sudah mati tapi kaum itu masih ada, selamatkan mereka yang masih hidup wahai Muhammad. Kenapa mareka mati dalam kekufuran, mati tanpa keselamatan, mati tanpa hidayah? Jawabannya …fahum ghafilun … karena mareka tidak bisa mengatur waktu, sibuk mencari duit, dengan masalah duniawi saja, sehingga mereka lalai. Pendidikannya, pegetahuannya, kesehatannya, umurnya, tidak digunakan dengan baik. Sudahlah, mareka pun telah pergi. Sekarang, jangan biarkan anak-anak yang di depanmu, orang-orang tua yang masih hidup dan sebentar lagi mati, anak-anak muda yang masih sehat dan gagah-gagah mengikuti jejak generasi tua mereka yang telah mati dalam kelalaian.

Laqad haqqal qaulu ‘ala aktsarihim fahum la yukminuun

Tugas Nabi dan ulama menyelamatkan masyarakat. Tapi Nabi Muhammad sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan mereka. Namun jangan kecewa dan jangan stress, (Pak, jangan stress!) sudah menjadi ketentuan Allah memang kebanyakan orang yang kita ingin selamatkan tidak mau menerima ajakan kita. Seperti apapun canggihnya teknik yang kita pakai mereka tetap tidak mau beriman kepada Allah. Mereka tidak mau bergabung dengan pengajian-pengajian, tidak mau bergabung kepada agama. Kebanyakan pada ikut bapaknya, yang sibuk di kantor lupa kepada Allah, yang sibuk berbisnis dengan menghalalkan segala cara, atau ibunya yang menghabiskan waktu dengan merumpi tanpa faedah. Makanya jangan tersinggung kalau Anda setiap hari mengemukan kepada anak, “Nak begini, nak begitu” tapi tidak digubris.Jangan putus asa kalau sebagian besar mareka tidak mengikuti kita. Memberi hidayah bukan wilayah kita, itu andil Allah. Apalah manusia biasa dalam menasehati anak. Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah 950 tahun, atau hampir 1.000 tahun. Anaknya ikut tidak? Istrinya yang tercinta ikut tidak? Dua-duanya di luar garis. Anak tetap kafir tidak mau percaya orangtuanya, istri khianat pada suaminya. Kalau begitu, tugas kita adalah berdakwah, bergerak dalam masyarakat, sedangkan masalah hidayah urusan Allah.

Ayat ini juga dapat ditafsirkan bahwa Islam tidak butuh orang banyak, tapi Islam butuh syi’ar. Satu yang mengamalkan lebih bagus daripada seribu orang yang tidak mengamalkan. Yang paling bagus tentu seribu yang semuanya mengamalkan.

Laqad haqqal qaulu ‘ala aktsarihim … juga bermakna jangan mundur selangkah pun dari perjuangan meskipun tidak banyak orang yang menerima atau mengikuti. Allah menyebutkan memang kebanyakan orang tidak mudah ditarik, memang sudah kodrat Allah bahwa manusia yang taat tidak akan banyak, mungkin tidak lebih daripada sepertiga.Kenapa seperti itu, kebanyakan orang tidak mau.

Inna ja’alna fii a’naqihim aghlaalan fahiya ilal adzqani fahum muqmahun

Kami sudah taruh di leher orang-orang yang tidak mau ikut itu rantai, dan tangan mereka (diangkat) sampai ke dagu, sehingga mereka tidak bisa bergerak, tidak bisa lihat kiri kanan lagi. Orang yang tidak mau mengikuti kebenaran, diajak ke mushalla tidak mau, diajak ke pengajian tidak mau, diajak baca Yaasiin yang benar tidak mau (kalau yang tidak benar dia mau), diajak pada shirathal mustaqim tidak mau, orang itu tidak ada gunanya dalam masyarakat, karena sudah dirantai oleh Allah sehingga tidak bisa bergerak dengan normal. Mereka kalau sudah minum ya minum saja, berganja ya berganja saja, kalau sudah morfin ya morfin aja, korupsi ya korupsi saja, begitu seterusnya. Kerjanya itu saja tidak mau berubah, atau istilah kita kecanduan. Kalau dinasihati, mereka malah menyalahkan orang yang menasihati. “Jangan ngomong deh, tolong keluarga sendiri diurusi dahulu.” ”Itu hak asasi saya.” “Lingkungan pak, susah!” Macam-macam.

Yasin untuk Orang Hidup

Pertanyaan saya sebagai berikut. Berdasarkan apa yang kita baca dan sejauh kita pahami, Yasin itu diturunkan untuk orang mati atau untuk orang hidup?Yasin jelas untuk orang hidup, bukan orang mati. Lebih prioritas lagi bukan orang hidup biasa. Pimpinan-pimpinan masyarakat wajib mengamalkan Yasin terlebih dahulu sebelum menyuruh pengikutnya, karena dia yaqumu maqamarrasul … dia berprestasi, berkedudukan, berposisi di belakang Rasul. Seorang pimpinan harus berubah sebelum merubah rakyat. Tentu saja, pada akhirnya semua kita wajib mengamalkan Yasin.

  

Itu satu dari sekian banyak tulisan beliau ustadz Dr. H. Rusli Hasbi, MA. Semiga membawa manfaat dan kebaikan. Kalau ingin membaca tulisan beliau yang lain kunjungi saja websitenya di http://ruslihasbi.com./

Wassalam…